|
JAKARTA, 19 November 2008 —Setelah sukses meluncurkan buku-buku bestseller, seperti Seri Interior, Panduan Brain Power, Parenting, Perfect Bride, Chic in Kebaya, dan novel-novel nonfiksi, ESENSI—salah satu divisi penerbitan dari Penerbit Erlangga—kembali meluncurkan sebuah novel semi-fiksi dalam dua bahasa (Indonesia & Inggris) yang ditulis oleh penulis skenario dan novel Zara Zettira ZR:
“Cerita Dalam Keheningan” “Every Silence Has A Story”
Zara Zettira hadir kembali setelah lama menghilang dari dunia pernovelan di Tanah Air. Hadir kembali dengan mengusung tema cinta dan kehidupan, Zara merangkai cerita manis yang menyelipkan kisah hidup dan hasil perenungannya dalam gaya yang lebih dewasa, namun tak melupakan ciri khasnya lugas tapi sarat makna.
“Cerita Dalam Keheningan” atau “Every Silence Has A Story” mengajak para pembacanya menyelami perjalanan hidup Zaira, tokoh utama dalam cerita ini yang telah melewati berbagai tahap kehidupan. Mulai dari bergelimangan harta, ketenaran, sampai pada titik yang paling fatal, yaitu kehilangan akal sehatnya! Pada saat manusia kehilangan harapan, maka yang ada hanya kepasrahan. Lebih baik mati daripada hidup tanpa harapan. Tapi, apa jadinya jika upaya mendapatkan kematian itu pun tak lagi bisa dilakukan?
Takdir berbicara. Tuhan ada di hati kita. Semoga kita semua tidak lupa pada hati nurani dan berhenti mencari karena dengan mencari kita tidak menemukan apa-apa. Dengan kepasrahan, dalam keheningan, Zaira justru menemukan kebenaran yang hakiki dan persahabatan dengan Tuhan.
Novel ini pada hakikatnya mengajak kita semua untuk memahami bahwa dunia ini bisa menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dinikmati. Bahwa di balik semua perbedaan-perbedaan yang ada, semua manusia sebetulnya sama. Mengubah pandangan kita terhadap segala bentuk cobaan dan penderitaan. Mengantarkan kita pada kehidupan yang lebih sederhana. Begitu sederhananya, sehingga dalam keheningan sekalipun, kita mampu mendengar dan belajar mengenai kehidupan yang sejati.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Injun Hapsari MarComm Penerbit Erlangga Jl. Haji Baping Raya No.100, Ciracas, Jakarta 13740 T: (021) 8717006 Ext.229 F: (021) 87794609 M: 0811.899.623 E-mail: injun.hapsari@erlangga.net Website: www.erlangga.co.id
Sekilas ESENSI: ESENSI adalah sebuah imprint dari Penerbit Erlangga, yang menerbitkan buku-buku manajemen populer, bimbingan karir, pengembangan diri, kamus profesi, pariwisata, perhotelan, life skill, referensi, kecantikan, kesehatan, gaya hidup, parenting, seri masakan, dan novel. ESENSI sendiri baru hadir dikalangan penerbit buku umum populer pada akhir tahun 2006 yang lalu. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai divisi ESENSI
Seputar Zara Zettira ZR: BELAJAR DARI KEHENINGAN
 Zara Zettira ZR lahir di Jakarta pada tahun 1969. Ia menulis sejak kelas 6 SD. Cerpen pertamanya berhasil meraih Juara 2 yang diadakan oleh majalah Anita. Sejak itu, ia sudah menulis lebih dari 200 cerpen dan 15 novel fiksi.
Beberapa karyanya mendapatkan penghargaan dari Lomba Penulisan Tahun Pemuda Internasional dan Lomba Cerber majalah Femina. Novel-novel remajanya, seperti Jejak-jejak Jejaka, Sexy Anissa, Nona DJ, dan Mimi Elektrik ditulis dengan gaya remaja yang lugas dan kocak mampu memikat hati pembaca setianya di awal tahun 90-an. Selain menulis Zara juga merambah dunia modeling dan membuktikan prestasinya di ajang Gadis Sampul Gadis, Putri Kampus majalah Kartini, Putri Remaja Indonesia dan None Jakarte favorit di Jakarta Pusat.
Kecintaannya pada film mendorong Zara hijrah ke Los Angeles, California untuk mengikuti kursus-kursus produksi film, workshop, dan seminar. Ia membuka karier filmnya dengan menulis skenario untuk sinetron JANJIKU, yang merupakan salah satu sinetron dengan rating tertinggi dalam sejarah persinetronan di Indonesia. Prestasi ini diikuti oleh terciptanya lebih dari 30 sinetron lainnya sepanjang tahun 1992-2005. Salah satunya adalah Malin Kundang yang berhasil memenangkan penghargaan sebagai sinetron terbaik di tahun 2005. Sekarang telah lebih dari 100 skenario film dan sinetron pernah dibuatnya.
Sejak 1998, Zara menetap di Kanada, tapi hatinya tetap di Bali sebagai rumah spiritualnya. Ia mulai menulis dalam bahasa Inggris sehingga menghasilkan Every Silence Has A Story sebagai karya pertamanya setelah 10 tahun absen dari dunia kepenulisan buku. Tahun 2008 adalah tahun kembalinya Zara ke dunia penulisan buku sejak sibuk dengan dunia sinetron dan film sejak tahun 90-an. Buku terbarunya ini adalah hasil perenungannya selama 10 tahun dan tentunya sangat berbeda dengan gaya penulisannya 20 tahun yang lampau.
Dalam bincang-bincang dengan majalah Choice, Zara memaparkan inspirasi hidupnya, opininya tentang cinta, dan cita-cita yang masih ingin ia wujudkan.
Choice: Gimana ya, cara seorang Zara Zettira mendapatkan ide menulis yang seolah tak pernah habis itu?
Zara: HENING. ha..ha..ha.. Itu saja... Tidak ada yang khusus. Tak perlu liburan atau traveling cari ide. Di mana saja ide bisa didapat asal bisa hening sebentar. Nah, kalau keheningan sudah didapat, semua yang tak kelihatan menjadi terlihat jelas. Maksudnya, segala yang semula terlihat 'biasa' saja atau normal jadi keliatan istimewa dan memberi inspirasi, atau membangkitkan rasa. Kalau perasaan sudah ‘terkilik’ begini, maka aku pun menulis sebab memang itu yang aku bisa. Outputku memang hanya melalui tulisan. Ada orang lain yang menumpahkan energinya melalui olah raga, melukis, atau masak. Sedangkan aku, energy channel-nya adalah menulis.
Choice: Tulisan Zara banyak bertopikkan ‘cinta’. Nah, Arti 'cinta' sendiri buat Zara apa?
Zara: Perjalananku cukup panjang dalam hal mencari makna cinta. Sampai akhirnya merasa menemukan makna yang sebenarnya. Menurut aku, CINTA itu rasa. Kemudian terwujud dalam karsa (perbuatan). Jadi bukan sebaliknya. Perbuatan-perbuatan manis BELUM TENTU cinta. Cinta harus ada lebih dulu. Perbuatan adalah buah dari cinta, bukan sebaliknya. Berbuat manis untuk membuktikan atau mendapatka Cinta menurutku itu keliru. Yang ada nanti hanyalah kecewa karena ketidaktulusan. Jujur, tidak semua orang menikah dengan orang yang dicintainya. Suami istri itu bagusnya berawal dari cinta . Atau... yang awalnya bukan cinta sejati juga lantas disatukan oleh CINTA, yaitu kalau sudah puya anak (buah CINTA kasih).
Choice: Bisa dibilang dalam hal ‘cinta’ Zara punya kisah sendiri. Pernah menikah dan bercerai, kemudian berjodoh dengan Zsolt Zsemba, penulis kebangsaan Kanada. Dan sekarang, Zara sudah dikaruniai 2 buah hati, Alaya Eva Ramadi Zsemba dan Zsolt George Zainuddin Zsemba. Apakah Zara sudah merasa menemukan cinta sejati?
Zara: Cinta sejatiku sekarang ya pada anak-anakku dulu baru suami ha..ha.. Jujur aja. demikian juga suamiku aku harapkan mencintai anak-anak nomer satu, aku ketiga aja, kedua kan harus orang tuanya. Cinta yang utama dan harus ya tentunya pada Tuhan YME. Tapi itu kan cinta bathin beda dengan cinta duniawi. Kalo di dunia nomer satu anak atau orang tua. Kalo belum punya anak ya nomer satu orang tua. Setelah dapet anak, ya anak nomer satu, orang tua nomer dua, suami nomer tigalah ha..ha..ha..
Buatku, cinta yang maha besar, ya cinta-Nya Tuhan. Yang tanpa pamrih sama sekali. Kita tak pernah beribadah pun masih diberi hidup. Bayangkan kalau orang tua seperti kita punya anak yang menelpon pun tidak ha..ha..bisa marah kan?! Bisa-bisa anak dicap durhaka kan?!
Choice: Tentang buku teranyar yang katanya nih, jadi novel pertama setelah 10 tahun vakum menulis novel. Ditulis dalam 2 bahasa lagi. Apakah isinya tentang cinta juga?
Zara: Novel ini adalah renungan perjalanan hidup pribadiku yang dipadu dengan imajinasi agar lebih mudah dibayangkan pembaca. Kisahnya tentang seorang wanita Indonesia mulai masa kanak-kanak hingga dewasa dengan segala perjuangan mengarungi roda kehidupan. Dengan segala masukan pengaruh kultur budaya waktu dia di besarkan di tanah Jawa ini. Sebuah perjalanan hidup yang universal, yang dialami oleh semua orang dalam versi yang berbeda-beda. Tentu saja, cinta jadi bagian yang dialami. Semua manusia sebetulnya sama, pikiranlah yang membuat kita melihat satu sama lain seolah berbeda. Zaira, tokoh utama dalam cerita ini telah melewati berbagai tahap kehidupan. Mulai dari bergelimangan harta, ketenaran, sampai pada titik yang paling fatal: kehilangan akal sehatnya. Pada saat manusia kehilangan harapan maka yang ada hanya kepasrahan. Lebih baik mati daripada hidup tanpa harapan. Tapi, apa jadinya jika upaya mendapatkan kematian itu pun tak lagi bisa dilakukan?
Choice: Lalu, inspirasi yang ingin dibagi dalam novel ini apa?
Zara: Nah ini penting...:) Artinya blajar DIAM. Diam dalam arti kurangi bicara banyak mendengar. Diam dalam artian juga kurangi MIKIR, dan banyak merasakan. Karena kita ini hidup di jaman serba cepat, serba maju, serba bersaing/kompetisi, jadi kita sibuuukkk terus ya mikir gimana caranya bisa beli rumah yang lebih gede, gimana caranya dapatin suami yang oke, dsb...dsb. Sebenarnya, itu semua sudah digariskan (takdir) jadi tak perlu terlalu dipikirin. Yang ada kita STRESS mikirin yang belum terjadi, letih karena mengejar-ngejar terus. Sekarang malam-malam juga orang pada kerja. Seolah dunia tak ada istirahatnya. Tak ada waktu untuk HENING. Suara hati (kebenaran) hanya bisa kedengaran kalau kita hening. Otak di istirahatkan. Berhenti berpikir. Nanti pasti kita semua terkejut...ternyata dengan DIAM kita malah belajar lebih banyak. dengan HENING kita malah mendapatkan yang kita cari-cari selama ini. Ternyata semua pertanyaan kita sudah ada jawabannya, di hati kita. Cuma kita ngga mendengar suara hati itu karna terlalu sibuk sendiri. Sibuk bicara dan beraktivitas lupa akan pentingnya 'mendengarkan'.
Ini sebagian besar pengalamanku sendiri. Jadi semua yg tertulis bukan reference atau nara sumber, melainkan hanya sekedar apa yang aku dengar selama hidupku dari orang-orang di sekitarku. Naif. Jadi, aku percaya benar dengan pentingnya KEHENINGAN karna sudah merasakannya sendiri. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa menulis yang lebih dalam lagi mengenai betapa nikmatnya Keheningan itu.
Choice: Apa cita-cita yang belum terwujud dan ingin segera Zara wujudkan?
Zara: Cita-citaku ingin menyemangati penulis-penulis baru. Banyak yang berbakat dan hanya tinggal diarahkan. Aku juga ingin membuat SERI NOVEl yang semua aku tulis duet dengan para penulis muda. Take and give, begitulah. Aku ngasih pengarahan dengan bekal pegalamanku selama 20 tahun dan mereka yang muda yang memberi aku input mengenai cara pemikiran anak muda jaman sekarang. Insyallah bisa menjembatani dua generasi...yang tua-tua (30 tahun ke atas dengan yang muda-muda yang di bawah 30 tahun). Itu cita-cita duniawiku. Cita - cita akhiratnya adalah menyiapkan AKHIR. Kan semua manusia intinya ada tiga tahap. AWAL (lahir) - PERJALANAN (Hidup) - AKHIR (mati). Sekarang aku sudah ditengah-tengah, artinya sudah mengarungi separuh waktu kehidupanku di usia 39 ini. Jadi sudah semakin dekat dengan "akhir". Jadi mesti harus prihatin, ndak bisa seperti dulu lagi hanya membuat rencana-rencana dunawi saja. Mudah-mudahan, seperti novel, akhirku itu happy ending…ha..ha..ha
Choice: Wahhh, dalam dan filosofis sekali. Buku-buku apa yang Zara baca dan sukai?!
Zara: Buku-buku sejarah Jawa, suku Inca , Mayan, Indian, Egypt, dan suku-suku bangsa kuno lainnya. Juga biografi pemimpin-pemimpin bangsa sejak jaman dahulu kala. Jaman kerajaan Singosari, Mataram, sampai pada Dalai Lama, Pak Harto dan Bung Karno. Buku-buku kitab agama juga suka yang kata-katanya puitis (kadang sulit dimengerti) tapi membuat kita mikir supaya bisa mengerti kedalamannya. Dari berbagai gaya penulisan dan perbedaan kurun waktu penulisannya, kita bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang sebenernya ndak berubah sejak jaman dulu kala. Itu inti kehidupan. Ndilalah kalau sudah mengerti "inti" nya kehidupan bisa berguna dalam menghadapi problem-problem yang kita temukan dalam hidup sehari-hari. Membaca bukan hanya menghibur tapi juga mencerdaskan hati serta mengasah kepekaan nurani. Kalau kita hanya pintar secara pikiran dan ilmu pengethuan saja belum cukup. Harus seimbang (balance) . Kalau ndak seimbang antara akal dan hati nanti jadi pincang malah jatuh, betul ngga? Jadi itu yang aku cari dalam bacaan-bacaan. Yang bisa menyelaraskan antara alam logika (pikiran) dengan hati nurani (perasaan).
Yang terakhir aku baca adalah The Power of Kindness ( Piero Ferrucci) , Eat Pray Love (Elizabeth Gilbert), A New Earth (Eckhart Tolle). Buku yang menggugah RASA adalah yang paling aku suka...selain itu, KOMIK juga aku suka karena bikin ketawa. Sebenarnya, banyak jenis buku yang aku suka, tapi yang paling tidak aku suka adalah buku POLITIK ha..ha...tujuannya nggak jelas (hanya untuk kepentingan propaganda alias individu yg membuat bukunya saja bukan untuk kepentingan banyak orang).
“Every Silence Has a Story” By Zara Zettira ZR This novel is a contemplation of the writer’s journey mixed with her imagination as a writer enabling this book to be easily understood by readers. A story about an Indonesian woman from her childhood until her prime of life with all her struggles living through the wheel of life. A universal journey of life, happened to all human in various version. Every man is basically the same, it is the mind that makes us see differently in one another.
Zaira, the main character of this story, has gone through many stages that life can offer. From the riches of wealth and fame, to the point of fatality: losing her mind. When a human being begins to lose hope, what is left is succumbness. It is better to die than live without hope. But what can happen if every act to embrace death cannot be done anymore?
Fate reveals. God is in our hearts. I hope that we don’t neglect our heart and we try to stop searching, because by searching we cannot find anything. With succumbness, in silence, Zaira can find the real meaning of truth and friendship with God. This novel mainly takes us to understand that similarity and in the end we can make the world a better place to live in. We can change the way we see the hardship and suffering. It can take us to a more simple life. So simple, we can still hear and learn about the true life in silence.
ZARA ZETTIRA ZR Zara believes that something originated from the heart will be able to reach and touch another –the readers’ heart. Zara Zettira ZR was born in Jakarta on 1969. She has been writing since in elementary school. Her first short story won second prize on Anita, a teen’s magazine. Since the, Zara has been unstoppable, and up to this day, she has written more than 200 short stories and 15 fiction novels. Some of her writings even won special award from The International Youth Writing Contest and serialized stories contest held by a women magazine, Femina. Her teen novels, such as Jejak-jejak Jejaka, Sexy Anissa, Nona DJ and Mimi Elektrik had captured the hearts of her loyal readers back in the 90’s.
Zara started her career as a cover model on teen’s magazine, Gadis, and beauty pageant. But, she finally decided to become a writer. Her other passion for film making drove her to Los Angeles, wherein she took formal courses on film production as well as attended workshops and seminars on related issues.
She started her career in film industry as a script writer for a prime time soap opera, JANJIKU. The show hit success and got the highest rating ever in Indonesia’s soap opera industry. From 1995 to 2005, she wrote scripts for 30 soap operas, one of which –Malin Kundang– had awarded the best soap opera in 2005. Up to this day, Zara has written more than 100 scripts for soap operas and widescreen movies.
She’s been living in Canada since 1998, yet she proclaimed that her heart is and will always be in Bali –her spiritual home. Though living abroad, she keeps writing scripts for Indonesia’s TVs and film producers. Every Silence Has A Story is her first novel in 10 years, and unlike her previous ones, it is written in English. This book has a special place in her heart because it is of her ten years contemplation on her life.
|